Saturday, July 17, 2010

Antara Suka, Sayang Atau Cinta?

saat kau menyukai seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri..
saat kau menyayangi seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri..
saat kau mencintai seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu sendiri..

saat kau menyukai seseorang dan berada disisinya, maka kau akan bertanya "bolehkah aku menciummu?"
saat kau menyayangi seseorang dan berada disisinya, maka kau akan bertanya "bolehkah aku memelukmu?"
saat kau mencintai seseorang dan berada disisinya, maka kau akan menggenggam erat tangannya..

suka adalah saat dia menangis, kau akan berkata "sudahlah, jangan menangis.."
sayang adalah saat dia menangis dan kau akan menangis bersamanya..
cinta adalah saat dia menangis dan kau akan membiarkannya menangis di pundakmu sambil berkata "mari kita selesaikan masalah ini bersama sama.."

suka adalah saat kau melihatnya, kau akan berkata "dia sangat cantik/ tampan dan menawan.."
sayang adalah saat kau melihatnya, kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu..
cinta adalah saat kau melihatnya, kau akan berkata "buatku, dia adalah anugerah terindah yang pernah tuhan berikan kepadaku.."

pada saat orang yang kau sukai menyakitimu, maka kau akan marah dan tidak mau lagi berbicara kepadanya..
pada saat orang yang kau sayangi menyakitimu, engkau akan menangis untuknya..
pada saat orang yang kau cintai menyakitimu, kau akan berkata "tidak apa, dia hanya tidak tahu apa yang dia lakukan.."

pada saat kau suka padanya, kau akan memaksanya untuk menyukaimu..
pada saat kau sayang padanya, kau akan membiarkannya untuk memilih..
pada saat kau cinta padanya, kau akan selalu menantinya dengan setia dan tulus..

suka adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan..
sayang adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan..
cinta adalah kau akan menemaninya tak perduli bagaimana pun keadaannya..

suka adalah hal yang menuntut..
sayang adalah hal memberi dan menerima..
cinta adalah hal yang memberi dengan suka rela..

Friday, July 16, 2010

Bule Rakitan Vs Bule Beneran

jadi begini ceritanya, kamis seminggu yang lalu. Saya, Tiwi, Mayang dan Gama pergi ke Garut. berawal dari obrolan iseng-iseng sekedar pengen berenang, rencana tersebut akhirnya sedikit kami rubah jadi berendam air panas di pemandian Cipanas, Garut. awalnya ada sekitar 10 orang yang mau ikut, tapi satu persatu pada ’berguguran’ hingga tinggal tersisa kami berempat.

sekitar jam setengah 3 sore, kami langsung berangkat menuju Garut. perjalanan ditempuh selama kurang lebih satu setengah jam, dengan bus Primajasa yang kami naiki dari Perempatan Gerbang Tol Cileunyi. sesampainya di Garut, disambut dengan dinginnya sore yang sedang hujan, kami segera bergegas menuju ke Waterbom Sabda Alam. niat hati pengen langsung berenang, tapi begitu sampai di depan loket masuk, kami pun hanya bisa bengong.

Tiwi *sambil nunjuk* ”cooo, ini kolam renangnyaaa??”

tanpa perlu menjawab, saya cuma bisa nyengir selebar gigi yang ada di mulut keliatan semua, hehe.. bagaimana nggak? kolam renang seluas itu hampir tertutup setengahnya oleh kerumunan manusia! nggak bapak-bapak, ibu-ibu, apalagi anak-anak kecil udah kayak cendol yang lagi mengapung-apung kegirangan sedang bermain air! ditambah harga tiket masuk yang melonjak hampir 2x lipat karena sedang masa liburan anak sekolah! baiklaaah.. -_-" *krik.. krik.. krik*

beruntung selain di Waterbom, Sabda Alam juga memiliki kolam renang lain yang berada di dalam hotel. meskipun sebenernya diperuntukan untuk tamu hotel, tapi kolam renang tersebut juga dibuka untuk umum. jadilah saat itu kami putuskan nanti malam untuk berenang di kolam renang dalam hotel, setelah sebelumnya kami harus mencari penginapan dulu untuk tidur semalam.

besok paginya, agenda kami adalah pergi ke Gunung Papandayan. perjalanan ke Papandayan ditempuh sekitar satu jam dari pusat kota Garut. setelah naik angkot dari Cipanas ke Pertigaan Tarogong, dilanjut naik elf menuju Desa Cisurupan. sampai di Desa Cisurupan, kami langsung jadi rebutan para tukang ojek yang menawarkan jasa mengantarkan sampai ke Parkiran Papandayan. tapi tarifnya ya buuu.. Rp 20.000 ajaaa satu orang!? *muahal gileee!*

berdasarkan cerita dari Mas Dwie (rekan backpacker saya yang sebelumnya pernah ke Garut) kalo dari Desa Cisurupan ke Parkiran Papandayan bisa naik mobil bak terbuka, semacem 'pick up' gitu yang biasa digunakan penduduk setempat buat ngangkut sayuran. dengan bekal informasi tersebut, kami pun memutuskan untuk jalan kaki dulu beberapa meter sambil menunggu siapa tau ada 'pick up' yang lewat. selang beberapa ratus meter, setelah menolak beberapa tukang ojeg yang masih juga terus-terusan nguber-nguber kami buat naek ojeg, kami pun menumpang 'pick up' yang lewat tersebut. dan disinilah kejadian ’menghebohkan’ itu dimulai.

saya "pak, mau ke atas kan? boleh numpang yah? hehe.." *merayu*

bapak sopir "oh iya, silahkan.."

tanpa pikir panjang kami pun segera naik ke 'pick up'. Tiwi dan Mayang langsung menyiapkan 'kacamata hitam' nya, sedangkan Gama sudah siap menjadi 'juru foto' dengan kamera 'blackberry' yang dimilikinya. jujur, waktu itu diantara kami memang nggak ada yang bawa kamera digital, jadilah asas 'tak ada rotan akar pun jadi' berlaku, apalagi untuk mengakomodasi jiwa 'narsisme' anak-anak HI seperti kami, hehehe.. dan mulailah kami bernarsis-narsis ria! =P

selang beberapa lama perjalanan, tanpa sadar sebenernya kami telah menjadi tontonan warga sekitar. bayangkan! dua orang cewek berjilbab dengan 'kacamata hitam' bersama dua orang cowok, lagi foto-foto nggak jelas di atas mobil bak terbuka, melewati perkampungan penduduk yang saat itu lagi sibuk-sibuknya menjalankan aktivitas di pagi hari. sampai akhirnya ada suara ribut-ribut.

suara ribut "ssst.. ada bule! ada bule!"

*kami masih belom sadar*

suara ribut "ada bulee!! ada buleee!!!"

seketika kami bengong, menatap sekeliling. ternyata orang-orang memang sedang memperhatikan kami! sambil sesekali ketawa, mereka berbisik-bisik (entah apa yang lagi diomongin) dan makin kagetlah kami saat ada segerombolan anak kecil berteriak-teriak sambil menunjuk ke arah Gama "ada buleee!! ada buleee!!"

HUAHAHAHAHAHAHA!! seketika tawa kami berempat pecah! ternyata Gama dikira bule sama orang-orang sekampung! yaoloh.. maklum, meskipun sebenernya nggak ada sama sekali garis keturunan dari luar, perawakan Gama memang sedikit ’blonde’. banyak temen-temen kampus yang menyebutnya ’Bule Rakitan’ atau ada juga yang bilang ’Bule Depok!’ karena Gama memang tinggal di Depok! wkwkwkwk.. =D

kejadian unik soal 'bule' lainnya terjadi saat kami berada di Kawah Papandayan. setelah capek keliling-keliling, kami istirahat di sebuah tumpukan batu sambil menikmati suasana kawah. diantara kami berempat, cuma Tiwi yang nggak ikut keliling, katanya semangatnya udah abis! dan jadilah dia cuma duduk aja dari tadi di tempat itu sambil nungguin tas saya, Mayang dan Gama.

saat niat mau pulang, tiba-tiba ada seorang 'guide' yang mengajak kami untuk ikut gabung bareng rombongan Bule Belanda yang sedang dia bawa. 'guide' itu mengajak kami untuk ikut berkeliling melihat Danau Kawah yang jarang orang lain kunjungi, daripada cuma bengong nggak jelas duduk-duduk di atas tumpukan batu.

melihat ada 2 cowok bule bersamanya, seketika tanpa pikir panjang Tiwi yang langsung mengiyakan. dan entah kenapa, kayak orang abis minum 'cairan isotonik' dia jadi bersemangat lagi! sepanjang perjalanan, Tiwi yang jalan paling bersemangat! berada di barisan terdepan di belakang bule. sedangkan saya, Mayang dan Gama kemudian mengikutinya di barisan paling belakang. *emang dah dasar Tiwi!* -_-" ckckck..

sejak dulu, Tiwi memang dikenal 'terobsesi' sama bule. entah udah ada berapa banyak bule yang dari dulu jadi 'cemceman'nya, tapi sayangnya nggak satupun pernah ada yang berhasil! wkwkwkwk.. *just kidding wi!* entah apaaa yang menjadi daya tarik bule sampe-sampe Tiwi, bahkan orang sekampung heboh kalo ngeliatnya? yah mungkin karena emang secara fisik 'mencolok' kali yah? beda sama orang kita kebanyakan. rata-rata bule (apalagi cowok) mau sejelek apapun, pasti teteup aja dibilang cakep! asal jangan Gama aja yang dibilang cakep! *nggak terima gue* huahahahaha.. =P

Thursday, July 15, 2010

Metamorph Part 2

Jakarta cerah pagi itu, tapi badan saya terasa masih capek banget setelah Selasa malam sebelumnya saya baru sampai di rumah. nggak kayak di kontrakan, dimana saya bisa bebas bangun siang tanpa ada yang mengingatkan, di rumah saya memang harus selalu bangun pagi. biasanya nyokap yang selalu membangunkan, menepok-nepok kaki saya sambil berucap ”ricco bangun, udah siang.. nanti tidurnya dilanjut lagi, bapak mau berangkat kantor..”

saya nggak tau kalo pagi itu bokap ada di rumah, karena udah dua malam sebelumnya nyokap bilang bokap nggak pulang ke rumah. seperti biasanya, bokap emang sering ke luar kota, kerja lembur cari tambahan buat biaya saya kuliah katanya. sebenernya bokap kerja di salah satu kantor pemerintahan, sejak 14 tahun lebih beliau merintis karir dan karena ’idealisme’nya bokap tetep nggak mau jadi PNS meskipun sering dapat tawaran. bokap lebih memilih jadi pegawai kontrak, karena selain katanya nggak mau jadi ’beban negara’ juga biar bisa nyari sambilan lain di luar. yup! bokap biasa jadi semacam ’personal EO’ untuk kegiatan meeting kantor di luar kota.

pantang bagi saya memang masih tidur kalo bokap mau pergi ke kantor. nyokap yang selalu ngingetin setidaknya kalo saya bangun pagi dan nyalamin bokap yang mau ke kantor, adalah bentuk penghargaan saya terhadap kerja keras beliau. jadi bisa ngasih semacam ’semangat’ gitu buat bokap! hehe..

grasak-grusuk dengan mata yang masih sayu, saya pun langsung bergegas ke kamar mandi. rencana saya hari itu emang mau ke perpus kantor bokap buat nyari bahan skripsi, kebetulan ternyata bokap udah pulang jadi saya bisa berangkat bareng. setelah mandi dan berpakaian, kami sarapan. satu hal yang menyamakan bokap dan nyokap kalo ngobrol dengan saya yaitu mereka berdua memang jarang menanyakan soal urusan kuliah kecuali kalo saya yang cerita duluan. saya maklumi hal itu karena sejak kecil bokap selalu bilang ”bapak sama mamah selalu percaya sama kamu, apapun itu selama bermanfaat dan baik buat kamu ya lakukan.. yang penting kamu bisa mempertanggungjawabkan semua yang kamu lakukan itu..”

saya memang lebih aktif dalam pembicaraan, biasanya saya yang mulai percakapan dengan cerita soal rutinitas kampus, gosip kampus sampai kegiatan saya sehari-hari selama di Jatinangor. selanjutnya, bokap merespon dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang terkadang justru berujung jadi sebuah diskusi. salah satu hal dalam keluarga yang saya sukai yaitu menanamkan nilai-nilai ‘demokrasi’ sejak kecil, meskipun terkadang harus ’dipancing’ dulu, hehehe..

setelah ngobrol ngalor ngidul, kami berangkat. jujur, sebenernya saya nggak terlalu deket sama bokap, saya lebih sering ’curhat’ sama nyokap. obrolan sama bokap biasanya nggak lebih dari urusan pendidikan dan masa depan. makanya terkadang sering terjadi miss komunikasi diantara kami kalo sedang bicara diluar urusan itu.

tidak seperti biasanya, hari ini bokap nggak bawa motor, motornya di tinggal di kantor karena emang kalo lembur ke luar kota bokap selalu berangkat langsung dari kantor, dan motor dititipkan ke petugas parkiran kantor. kami naik taxi dari Rawa Belong sampai kantor bokap di bilangan Kebon Nanas-Cawang, di dalam taxi kami pun melanjutkan obrolan. bagi saya, situasi saat itu terasa sangat spesial. pagi hari, sepanjang jalan melintasi Jalan Gatot Soebroto yang saat itu ramai lancar, duduk sebelahan sama bokap, sambil membicarakan rencana masa depan. sangat jarang sekali terjadi.

saya ”pah, kalo misalkan nanti ricco kerja di luar kota gimana yah? pengen deh kerja di luar kota, abis sumpek banget kalo di Jakarta, tiap hari macet! bisa-bisa tua di jalan! hmm.. tapi kalo misalnya nggak di Jakarta juga takutnya malah nggak bisa berkembang, kan kayaknya semua ada di sini, hehe.. jadi bigung..”

bokap ”kamu ini, jangan gantungkan hidup di Jakarta.. Jakarta itu keras! ya kalau memang kamu bisa kerja di luar kota, bagus.. siapa bilang orang cuma bisa berkembang kalo di Jakarta?”

saya *sambil mengangguk* ”iya sih..”

bokap ”kalo bisa malah kamu jangan mencari pekerjaan, tapi ciptakan lapangan pekerjaan.. jangan jadi beban negara, tapi bantu negara..”

saya *krik.. krik.. krik..* (dalem hati: ”jiah mulai lagi deh bokap dengan idealismenya”) ”yaaa.. ricco sih juga pengennya gitu, tapi buat mulai suatu usaha kan juga butuh modal, jadi mau nggak mau harus cari kerja dulu lah buat ngumpulin modal..”

bokap ”emang kamu udah punya rencana kerja apa?”

saya ”pengennya sih kerja yang sesuai hobi, ricco kan suka jalan-jalan ya enak tuh kalo bisa kerja sambil jalan-jalan, biar bawaannya seneng dan semangat terus! hehehe.. jadi wartawan kayaknya seru, atau di EO gitu mungkin? yang penting nggak melulu berangkat pagi pulang malem sama duduk di depan komputer lah, bosen!”

bokap ”bagus itu, setidaknya kamu udah punya gambaran nanti mau gimana dan kemana..”

saya ”amieeen! pengennya juga sih nanti kalo misal udah ada modal mau ngembangin Warung Bakso mama, biar bisa dibikin ’franchise’ ato restoran gitu, hehe.. tapi apa nyoba di bank juga aja yah? peluangnya gede, gajinya juga lumayan.. tapi bisa kena denda kalo misalkan di tengah jalan resign, padahal misal nanti ada tawaran kerja lain yang lebih oke, hmm..”

bokap *senyum miris* ”kamu itu.. yaiyalah, di bank itu kan kamu disekolahin, mereka itu investasi, masa udah capek-capek tapi ilmunya malah dipake buat orang lain? sama kayak kamu, semua orang tua nyekolahin anaknya juga investasi, kalo udah pinter bukannya ngebahagiain orang tua, kebangetan namannya..”

jebbb!! dalem, nusuk tapi penuh makna. yup! lagi-lagi saya diingatkan. meskipun agak sedikit ’nylekit’, saya mencoba untuk nggak menganggap kata-kata bokap (maupun nyokap sebelumnya) itu sebagai ’tuntutan’. saya menyadari betul posisi saya sebagai anak lelaki pertama, yang nantinya memang akan menggantikan posisi beliau sebagai kepala keluarga. makanya, jujur baik bokap maupun nyokap memang kurang tertarik bahkan jarang bertanya ke saya soal ’pacar’ dan urusan percintaan lainnya. satu hal (mungkin) ’negatif’ yang saya tangkap dari nasehat mereka, yaitu adanya rasa ’takut’ kalo nanti saya keburu menikah sebelum sempat membahagiakan mereka. hal yang menurut saya wajar, dan memang saya anggap sebagai bentuk tanggung jawab.

sejak dua percakapan itu, mulai sekarang saya benar-benar bertekad untuk melakukan yang terbaik untuk mereka. semua nasehat yang mereka berikan, entah kenapa jadi seperti ’teguran’ kepada saya yang belakangan ini memang mulai kendur semangatnya khususnya untuk mencapai target lulus bulan november. sebuah perubahan, meskipun kecil, adalah awal dari sesuatu yang besar. seperti ’matamorphosis’ dari ulat menjadi kupu-kupu, sesuatu yang mungkin awalnya terlihat kacau, jelek dan buruk pasti akan indah pada waktunya.

ini adalah saatnya saya harus memulai semangat baru. perubahan kecil, diawali dengan merubah pola pikir saya untuk tidak lagi berpasrah pada keadaan, harus segera saya lakukan. dengan kembalinya saya menulis, dalam blog ini, saya berharap semoga semangat saya yang mulai tumbuh itu juga bisa dirasakan oleh teman-teman yang lain (yang membaca). paling tidak, jika nanti semangat itu mulai kendur, bagi saya blog ini adalah salah satu cara yang mungkin efektif sebagai alat untuk mengingatkan.

SEMANGAT!! YAKIN PASTI BISA!! :D

Metamorph Part 1

senin tiga hari yang lalu sekitar jam 10 malam tiba-tiba nyokap telpon. seperti biasanya, nyokap selalu telpon di atas jam 9 malam. maklum, jam segitu beliau baru pulang dari Warung Bakso yang memang tutup sekitar jam 9 malam. jadwal nyokap nelpon nggak tentu, kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali, bahkan pernah juga sebulan sekali! hehe..

sebagai seorang ibu, wajar adanya menanyakan kabar anak. apalagi kalo anaknya berada jauh dari orang tua, seperti saya yang kuliah di Jatinangor sementara rumah di Jakarta. walaupun kadang pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan ’standar’, dan cuma itu-itu aja. tapi bagi beliau, jawaban-jawaban yang saya berikan tentu terasa ’spesial’. spesial karena paling nggak udah sedikit ngobatin rasa rindunya sama saya, saya sadari benar itu.

satu hal yang sedikit membedakan percakapan kami malam itu adalah ketika nyokap bertanya ”ricco, kira-kira kapan kamu lulus?” hmm..

bagi sebagian besar mahasiswa tingkat akhir, pertanyaan ”kapan lulus?” memang agak sensitif. terlebih bagi saya, karena nyokap sangat jarang sekali bertanya soal urusan kuliah. sesekali nyokap dulu pernah bilang ”yang penting kamu kuliah yang bener, belajar yang pinter, lulus, dan nanti kalo udah kerja jangan lupa bahagiain orang tua dulu, baru nikah..” selebihnya? nyokap nggak pernah tanya soal nilai, IPK apalagi skripsi kalo memang bukan saya yang cerita, bahkan berapa bayaran uang semester kuliah saya pun nyokap sering lupa.

awalnya agak bete juga sih ditanya kayak gitu, saya bilang ”pengennya ya lulus bulan november mah, tapi tau dah agak kurang yakin juga.. abis dosennya susah banget ditemuin! sekalinya ketemu eh skripsinya disuruh revisi lagi, revisi lagi.. mana katanya kalo dibimbing sama dosen bimbingan ricco ini emang bakal lama lulusnya..”

nyokap ngomong ”owh ya udah, iya yang penting kamu ngerjainnya yang bener.. kalo bisa dosennya dirayu, bilang aja orang tua kamu pengen cepet liat anaknya di wisuda, jadi sarjana..” *krik.. krik.. krik..*

nyokap lanjut bilang ”hmm.. abis gimana yah, bukan maksud mama apa, tapi tetangga banyak banget yang nanyain soal kamu.. temen-temen main kamu waktu kecil, anak tetangga depan rumah, semua udah pada lulus, sekarang udah mau kerja.. yah dalem hati sih mamah jadi pengen liat kamu kayak gitu, bosen juga jawab pertanyaan orang kapan kamu lulus? hehe.. kan mamah jadinya kepikiran, iya yah kok anak saya belom lulus? padahal kan kamu masuk kuliahnya juga bareng sama mereka..”

yup! jadilah seketika malam itu perasaan saya campur aduk! antara kesel, sedih, sekaligus bingung. mau gimana lagi coba!? tanya deh, sebagian besar temen kuliah pun saya yakin siapa sih yang nggak pengen cepet lulus!? tapi keadaan (baca: revisi dan dosen yang susah ditemuin) emang kayak gitu, yang kadang justru malah bikin tadinya semangat jadi males-malesan, bener nggak!? *cari pembelaan* hehe..

saya sempat berujar ”yaudah sih mah, nggak usah juga dipikirin omongan orang, yang penting mamah kan tau ricco gimana..”

nyokap ”iya, mamah percaya..”

malam itu saya benar-benar drop, bukan hanya karena pertanyaan nyokap tentang kapan saya lulus, tapi karena nyokap juga bercerita lebih jauh tentang keadaan rumah. saya tidak mau bercerita panjang lebar soal hal tersebut, karena bagi saya problematika keluarga adalah urusan private dan bukan untuk konsumsi umum (hehehe.. maap yah!).

percakapan malam itu berlangsung cukup lama, terlebih soal ’curhatan’ nyokap yang pada akhirnya membuat saya untuk tidak lagi memperpanjang kontrakan rumah di Jatinangor, dan memilih pulang-pergi Jakarta-Jatinangor. kebetulan mulai semester ini saya memang udah nggak ada kuliah, tinggal bimbingan aja dan itu pun seminggu sekali setiap hari Selasa. selama setahun terakhir saya dan teman saya Alex memang ngontrak rumah, masa sewa kami akan habis akhir bulan ini dan wacana untuk tidak memperpanjang kontrakan memang sempat kami bicarakan.

akhir pembicaraan, nyokap sempat berucap sebelum menutup telponnya ”selamat ulang tahun yah ricco, maap mama telat.. ingat kamu sudah 22 tahun, semoga semakin dewasa..”

satu kalimat penuh makna, yang seketika benar-benar terasa menampar dan menyadarkan saya mulai saat itu bahwa bukan saatnya lagi saya masih menjadi beban orang tua. memang sudah saatnya saya mengabdikan diri dan membalas jasa-jasa mereka. paling tidak, diawali dengan serius menyelesaikan apa yang menjadi kewajiban saya sebagai mahasiswa tingkat akhir, yaitu menyelesaikan skripsi tepat waktu. mungkin memang tetap akan ada banyak kendala, tapi semangat itu tidak boleh padam! seperti yang saya rasakan belakangan ini.

maap yah mah, dan terima kasih udah meningatkan ricco.. :)

PS: maap buat Alex, kalo pagi itu pas loe mau beragkat ke kampus tiba-tiba gue ngasih kabar ngedadak nggak lanjutin ngontrak rumah. padahal gue tau banget hari itu loe mau sidang kolokium, hehe.. sory ya bro! you know, siangnya gue emang harus balik ke Jakarta, jadi takut nggak sempet ngomong lagi, thanks..